Rabu, 09 Januari 2008
Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Monumen Nasional adalah ikon utama ibukota Jakarta. Jadi belum ke Jakarta kalau belum pernah ke Bundaran HI dan Monas. Nah, cerita ini adalah pengalaman pertamaku berjalan-jalan di Bundaran HI dan Monas a la anak-anak kosan.
Adalah rekanku Ade Andesra yang
punya ide gila jalan-jalan di saat UAS ini. Saat itu malam di kosan menunjukkan pukul 19.00 WIB, Ade tiba-tiba berseru:
“Woi, daripada enggak ada kerjaan,
mau enggak pada jalan-jalan keliling Jakarta? Iseng aja lah ntar juga ketemu
tempat yang asyik di mana,” kata Ade, mahasiswa asal Padang.
“De, Jakarta sih itu-itu aja
tempatnya, nggak ada yang aneh,” si gendut Fajar menimpali.
“Ye, kemana keq. Gw udah biasa kayak
gitu jalan aja sembarangan, daripada diem di kosan,” Ade keras kepala. *batu*
“Ya dah gw setuju. Beneran nih?” kataku
nimbrung.
“Gw sih ok aja,” Obi si curly nyahut, disambut
anggukan kepala Adam.
“Ya dah, semuanya mandi dulu gih,
kita siap keluar malem nih,” usul Ade diterima, *Adejoget*.
19.35 p.m.
Semuanya telah siap untuk menelusuri kota Jakarta. Tak lupa kami membawa
KTP untuk jaga-jaga khawatir terjadi hal tak diinginkan. Maklum, kami mahasiswa rantauan semua. hehe.. Kartu-kartu
lain yang biasanya memenuhi dompet, kali ini tidak diikutsertakan. *ribet*
“Busyet!! Udah kayak mau ke mana aja
nih,” seru Obi.
Menuju Monas dari kosan (Ciputat) ditempuh dengan perjalan bus sekitar 30 menit. Tak perlu waktu lama, akhirnya kami tiba di sekitar Bundaran HI, tepatnya samping Grand Indonesia.
Sepanjang pinggiran jalan itu kami disambut jajaran pedagang malam, dan entah
mungkin karena memiliki daya tarik tersendiri, kita berhenti di salah satu
pedagang yang sebetulnya bisa kami temui di Ciputat, nasi goreng!
Ya, kita makan malam itu dengan menu
nasi goreng, spesial HI. “Gimana enggak keren coba, makan nasi goreng aja di HI.
Hahaha...” Fajar ngakak nelen nasi.
Mall Grand Indonesia saat
itu relatif sepi, meski masih jam 8 malam. Tapi maklum, karena ada beberapa
gedung yang memang baru dibangun, konon ini bakal jadi mall terbesar di
Indonesia. Sementara di jalanan sekitar HI orang-orang terlihat cukup ramai
berlalu-lalang, dan beberapa pengendara motor yang masih banyak terparkir di
pinggiran jalan.
Usai menegak nasi goreng kami
mulai mendekat ke arah Bundaran HI. Sebuah kolam yang cukup besar dengan tugu selamat datang di tengahnya. Air yang mengitari Bundaran HI itu memancar setinggi sekitar 2 meter mengarah kepada tugu setinggi sekitar 10 meter yang diatasnya menampilkan patung seorang pria dan wanita seolah sedang memberi sambutan kepada siapa saja yang datang ke Jakarta.
Pertama kalinya bisa nongkrong di bundaran HI, membuatku benar-benar takjub dibuatnya. Indah luar biasa! Aku salut pada Soekarno sebagai presiden yang juga Insinyur perkotaan, beliau cerdas dengan membuat “genangan air” di tengah sesaknya ibukota.
Pertama kalinya bisa nongkrong di bundaran HI, membuatku benar-benar takjub dibuatnya. Indah luar biasa! Aku salut pada Soekarno sebagai presiden yang juga Insinyur perkotaan, beliau cerdas dengan membuat “genangan air” di tengah sesaknya ibukota.
Kita hanya duduk-duduk di pinggir
kolam itu dan sesaat kita menikmati kesegaran yang ditawarkan oleh ribuan kubik
air yang berlompatan di sebuah kolam di tengah kota Jakarta. “Bi, coba kalo
Bung Karno bukan insinyur, gw yakin kolem ini nggak bakal ada. Tapi karena dia
insinyur makanya bisa buat karya-karya di Jakarta kayak gini. Sama juga kayak
monas,” jelasku pada si curly Obi.
Maka penat dan jenuh pun sesaat larut
diantara gemuruh air yang memancar di bawah patung selamat datang yang
menjulang di tengah kolam. “Jar, lo mau enggak gawe dapet gaji satu juta
per-bulan?” tanya Obi.
“Apaan?” si gendut penasaran,
“Gampang! Lo gantiin aja patung yang
ada di atas sana gih,” kata Obi menunjuk ke atas tempat patung itu berdiri.
“Sialan lo! Haha”
Cukup sudah kami menikmati suasana
HI malam itu, walau hanya sekedar duduk-duduk dan bergelut dengan ocehan-ocehan
konyol khas anak kosan sarap.
22.00 a.m.
Kami bertolak dari HI menuju Monas. Beberapa
langkah saat kami baru meninggalkan Bunderan HI. “Bal, lo liat tu aernya mati. Berarti
ngerti tu aer, dia bakal mati kalo kita dah pergi,” kata Fajar sambil menunjuk
ke belakang.
Dan air mancur di bundaran HI itu
benar-benar mati tepat di saat kita baru saja beranjak pergi. Aku mulai tahu
bahwa air di bundaran HI akan mati pada pukul 10 malam.
Usai dari
HI, kali ini kita benar-benar berjalan untuk sampai di
Monas yang berjarak sekitar 2 km.. Langkah-langkah kami menaklukkan pinggiran gedung-gedung tinggi yang
angkuh dan congkak berdiri. Entah jalan apa ini yang sedang dijajaki. Kita
melewati MU-CAFE, lalu berbelok ke sebelah kanan. Di tengah perjalanan, kami
melihat sepasang bule tengah berjalan dengan gaya jalan yang terburu-buru.
Tiba-tiba ide gila muncul untuk
membuntuti sepasang bule yang ada di seberang jalan itu. Tapi sayang, baru saja
ide itu muncul mereka malah berbelok cepat menuju jalan lain yang bukan jalan
pilihan kita. Yah.. kayaknya itu bule emang bisa membaca pikiran kita, jail
juga tu bule. *he*
Setelah gagal membuntuti bule, kami memasuki
satu jalan yang awalnya kita tidak ketahui daerah apa itu. Sebuah jalan yang tidak
terlalu lebar, dengan kafe di kiri dan kanannya. Jalan itu sangat ramai dan
dipenuhi banyak bule-bule yang banyak berpapasan.
“Hai
seksi Lady...” Goda bulewati kepada teman sesamanya sambil menyentuh bagian
paha atas temannya itu. Waduh! Apaan itu maksudnya Le??
Beberapa kafe tampak disuguhi dengan
live music dan karaoke, aku mengenal salah satu lagu yang dinyanyikan adalah welcome
to my paradise-nya Steven and Coconuttrezz. Keluar dari jalan itu, sebuah
papan nama terbentang di ujung jalan itu. WISATA MALAM
“O, yah... Gw tau ini, Jalan Jaksa!”
kata Ade.
Si Ade bilang sih ini Bali-nya
Jakarta, di mana sepanjang jalan ini akan selalu dipenuhi bulewan dan bulewati
yang mencari kesenangan pada malam hari.
“Woi, tu monas...!!” si Fajar teriak
menunjuk puncak monas yang terlihat saat kami baru saja keluar dari jalan
Jaksa. “O yeah... Udah deket ma monas, ayo ke sana Jar,” Timpalku girang.
Dengan suka cita, kami pun
meneruskan perjalanan menuju monas, tampak dekat memang dari jalan Jaksa, tapi
ternyata jauh juga jika ingin melihat dari dekat.
Maka kami pun memasuki gerbang monas
yang masih terbuka. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di Monas. “Wah udah
nyampe monas lagi nih. Keren, keren..
bisa jalan gini sampe Monas!” seruku girang.
Perjalanan benar-benar terasa
menyenangkan, letih berjalan dari Budnaran HI pun terbayar dengan pemandangan
indah di depan kami saat itu. Monumen Nasional yang kokoh berdiri. Kami kemudian
medekati Monas untuk bisa duduk tepat di bawah monumen yang berupa sebuah tugu
raksasa yang tertanam di tanah Jakarta.
Akhirnya, kami bisa duduk-duduk di
bahu jalan tepat di bawah monas, merebahkan badan dan selonjoran senyaman
mungkin untuk kembali saling berseloroh konyol dengan cerita-cerita gila si
gendut Fajar dkk.
22.50 a.m.
Tak aku sadari, malam ini adalah
malam tahun baru Islam. Tapi kok tidak ada panggung yang berdiri? Tidak juga tampak
manusia yang rela berjejalan untuk bertahun baru di sini seperti tahun baru
beberapa hari yang lalu? Ke mana mereka ya? Juga kendaraan-kendaraan yang
seharusnya memadati area parkir monas untuk merayakan tahun baru Islam.
Tidakkah mereka melihat mana yang bisa dibanggakan dari Islam? Hmm.. Sepertinya
rupa agamaku tak lagi bisa dibanggakan. Islam cukup sebagai status, dan mereka
kehilangan ruhnya. Batinku bergumam.
Beberapa orang memang tampak
berlalu-lalang di sekitar halaman Monas. Mereka berjalan-jalan, bahkan ada yang
tampak sedang berolahraga. Ya wajar jika sekarang monas dikunjungi beberapa
orang, karena besok adalah hari libur nasional.
Dan monas pun bergelagak tawa
bersama kami dalam kekonyolan. Tidak pernah kami mendapatkan malam senikmat itu,
dan tidak pernah kami bergelagak ngakak sepuasnya selain saat di bawah monas
itu. Apalagi ditemani secangkir kopi.
00.01 a.m.
Alhamdulillah... Kita baru saja memasuki
tahun baru Islam. Suara kembang api terdengar dari tempat yang jauh, rupanya
masih ada orang-orang yang mau merayakannya. Syukur lah.. Walau malam sudah
cukup larut, tapi kami masih nyaman dengan angin sejuk yang berhembus di
selaras tenggak leher kami. Langit di atas monas kala itu terlihat cerah dengan
beberapa bintang yang sepertinya juga menikmati malam bersama kami.
“Eh besok ke Baduy yuk?” tanya Adam
di tengah-tengah obrolan.
“Boleh juga tu. Gila, sekalian gila
kita ke Baduy besok nih,” Ade mulai nyahut.
“Oke-okeh. Setuju kita berangkat
besok,” Tambah si Obi dan Fajar.
“Ongkosnya murah koq, bawa 20 ribu
juga cukup untuk pulang-pergi, kan naek kereta yang Rp 2.500. Bal lo gimana?”
tanya Adam lagi.
“Gw, nggak yakin bisa ikut. Nyokap
pernah larang gw ke Baduy. Tar deh gw pikirin lagi,” jelasku.
00.20 a.m.
Kita sudah cukup lelah
terbahak-bahak dan sudah terlalu lama bergumul dengan malam yang tidak
selamanya menawarkan kesejukan. Maka kami pun beranjak pergi meninggalkan monas
dengan mengambil jalan keluar yang berbeda dari jalan masuk tadi.
Tepatnya, kami meninggalkan monas
untuk melanjutkan menjajaki jalanan malam. Kami ingin melebur menjadi bagian
dari pekat malam, menjadi substansi dari angin, dan menghilang bersama
kegaduhan yang lenyap ditikam malam.
Setelah berjalan beberapa puluh
langkah dari monas, kami berhenti dan duduk tepat di halte yang berhadapan
langsung dengan Bank Indonesia. Saat itu tubuh kami mulai terasa lelah, sulit
untuk terbahak-bahak lagi. Hanya gurauan dan obrolan ringan yang tersisa. Maka
di halte itu kami menunggu angkot yang akan menuju ke kebayoran.
00.40 a.m.
Kami naik angkot menuju pasar
kebayoran. Selama di angkot, mataku sudah terasa sulit untuk terjaga, beberapa
kali aku mengantuk. “Bal, lu di sini duduknya. Jangan di pinggir pintu gitu,
jatoh lu,” kata Fajar diamini Ade.
Aku tahu saat itu hanya aku yang
benar-benar mengantuk. Tapi aku hiraukan saran Fajar, dan aku menahan rasa
kantuk yang sangat pada malam itu. Tapi rupanya aku tertidur untuk 1 hingga 3
menit di angkot, untungnya tidak sampai terjatuh meski duduk di samping pintu.
Tiba di pasar kebayoran, kala itu
pasar sudah dipadati ‘manusia-manusia pasar’. Ternyata sekalipun telah turun
dari angkot, mataku masih sangat mengantuk. Setelah aku lawan semampu mungkin
dengan melihat-lihat aneka barang dagangan yang dijajakan di pasar, perlahan
mataku mulai bersahabat. Dan kita pun berjalan-jalan di sepanjang pasar. “Duh,
sekalian aja belanja buat villa, sayuran keq, apaan aja dah,” seru Fajar.
Karena kami bukan manusia yang biasa
berurusan dengan pasar, maka kami bingung sekiranya apa saja yang harus
dibelanjakan untuk kepentingan kontrakan. Hingga akhirnya, hanya satu buah
semangka seharga 5ribu yang berhasil kami bawa pulang ke villa. Dari pasar
kebayoran, kami menlanjutkan perjalanan menaiki kendaraan ke arah ciputat.
01.30 a.m.
Kami tiba kembali di kosan, Ciputat.
Maka tibalah saat bagiku untuk merebahkan
tubuh yang terlalu letih, meremajakan otot yang lemah bergerak, dan
mengistirahatkan setiap bagian dari sudut2 otak, serta meninabobokan diri dalam
mimpi yang absurd.
Terima kasih malam, kau menawarkan
sudut terindahmu untuk kami nikmati dalam kekonyolan, dan untuk segalanya yang
telah mewujudkan kegilaan no. 2.
