-Pulau Burung-
Kamis, 9 oktober 2008
Mari kita berkunjung ke lokasi lain di Provinsi Banten:
Pulau Dua atau dikenal dengan Pulau Burung. Kunjunganku ke lokasi ini adalah
untuk liputan Koran Radar Banten, kolom Inspirasi bersama seorang rekan. Targetnya
seorang polisi hutan atau dikenal dengan sebutan jagawana.
Pulau Dua atau Pulau Burung berada di sebelah utara Provinsi
Banten, tepatnya di Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Jarak
menuju lokasi dari pusat Kota Serang sekitar 30 Km, atau jika ditempuh dengan
motor sekitar 40 menit.
Menuju Pulau Burung adalah lokasi yang tak jauh dari
objek wisata Banten lama.. Jalanan menuju lokasi dipenuhi rimbun pohon-pohon asam
di kiri dan kanan jalan, hingga tiba di Kecamatan Kasemen bau laut mulai
tercium kental dari jarak sekitar 5 Km sebelum lokasi. Maklum, daerah ini memang
sangat dekat dengan lautan, bahkan dari kejauhan aku dapat melihat sebuah perahu
nelayan bersandar di tepi laut. Dari rimbunnya pepohonan kemudian berganti
dengan luasnya hamparan sawah, empang dan lahan kosong.
Tak ada petunjuk pasti untuk sampai di lokasi Pulau
Burung. Karenanya begitu tiba di Kasemen kami langsung bertanya pada orang
sekitar. Tapi tak perlu sulit untuk mencari tahu, karena masyarakat sudah
mengenal Pulau Burung. Dari pinggir jalan, motor yang kami kendarai diminta mengikuti
jalan setapak atau tepatnya jalan tanah di antara empang-empang milik warga.
Agak risih karena kami bisa saja terpeleset dan masuk ke dalam empang. Jarak
dari jalan utama menuju Pulau Burung hanya sekitar 500 meter.
Hamparan pohon bakau dan kicauan burung menyambut
kedatangan kami di Pulau Dua. Sebuah papan nama bercat putih dan dasar hijau
tertancap di bagian depan bertuliskan ‘Pulau Dua’. Dari depan, pulau ini tampak
seperti hutan kecil yang rimbun di pinggir laut. Motor pun kami parkirkan di
‘halaman’ pulau, yaitu di dekat sebuah rumah kecil yang tampak seperti pos
penjagaan.
Pulau Dua atau Pulau Burung adalah cagar alam milik
Banten yang ada sejak zaman Belanda. Disebut pulau burung karena pulau ini menjadi
tempat singgah burung-burung yang migrasi dari berbagai benua seperti
Australia. Pada mulanya Pulau Burung memang sebuah pulau yang dulu untuk
menempuhnya harus menggunakan perahu dari Karangantu, artinya pulau ini berada
di tengah laut lepas. Tapi sekitar tahun 80-an, perlahan pasir di pantai
bertumpuk di sekitar daratan dan pada daerah lain terjadi abrasi, maka pada
akhirnya Pulau Burung menyatu dengan daratan.
Dari semula hanya 8 hektar, setelah menyatu dengan
daratan Pulau Burung meluas menjadi 30 hektar. Di Pulau ini terdapat banyak
sekali flora dan fauna, flora yang banyak dan dikembangkan adalah tumbuhan
bakau sebagai konservasi alam, dan faunanya jelas banyak sekali burung. Jika
tiba m usim migrasi burung setelah bulan Januari, maka kawasan Pulau Burung
akan ramai oleh burung-burung dari berbagai tempat yang akan singgah dan
berkembangbiak di tempat ini. Indah sekali Pulau Dua ini!
Baru berjalan sekitar 10 meter, kami dibuat takjub
dengan pemandangan lautan yang terhampar luas di hadapan kami. Subhanallah,
indah sekali memandang lautan yang tenang dari jajaran pohon bakau. Kami kemudian
mendekati seorang pemuda yang tengah duduk di pos penjagaan, tak jauh dari
tempat di mana kami berdiri. Dari pemuda itu kami menanyak seorang bernama Mad
Sahi, dia adalah polisi hutan yang sudah lebih dari 30 tahun merawat Pulau
Burung ini.

Kami lalu diantar menemui seorang bapak berusia 52
tahun yang rupanya masih berada di sekitar. Ia tengah asyik dengan sebilah kayu
sambil berjongkok. Maka tak perlu menunggu waktu lama untuk kami berkenalan dan
menyampaikan maksud kami datang ke Pulau Dua. Ia semula sungkan untuk
berbicara, namun setelah kami ajak dalam obrolan ringan, bapak asal Pandeglang
itu mau berbagi cerita tentang Pulau Burung. Kami lalu diajak berjalan-jalan di
sekitar Pulau Burung.
Kami diantar menuju tempat di mana tepatnya bagian
Pulau ini yang dulunya terpisah dari daratan. Selama berjalan-jalan memasuki
jajaran hutan bakau, kami terus menggali sebanyak-banyaknya informasi dari Pak
Mad Sahi. Tapi aku merasa pulau ini sangat sepi, benar-benar sepi. Hanya ada
suara burung, suara ombak dan suara Pak
Mad Sahi yang terkadang terdengar parau karena cukup lama menjadi Tuan di Pulau
ini.
Di antara kesunyian itu, ternyata pulau ini menyimpan
banyak rahasia. Di antara jajaran pohon bakau yang kami lalui, aku melihat
beberapa makam yang tampaknya tak terawat. Bahkan batu bata besar tertanam tak
beraturan di tanah-tanah yang kami lalui. Barulah saat itu Pak Mad Sahi
bercerita:
"Ini
pemakaman peninggalan zaman perang Belanda, batu-batu yang kita injak ini
dulunya makam. Tapi Bapak engga pernah tau sejarah sebenernya, ada yang bilang
ini tempat pemakaman pahlawan Indonesia yang tewas waktu perang, ada yang
bilang tempat persembunyian. Malah ada yang bilang juga tempat pembuangan
korban perang..." kata Pak Mad Sahi.
Seketika itu kami diajak turun ke area bibir pantai.
Belum usai rasa penasaranku tentang sejarah pulau ini, Pak Mad Sahi menunjukkan
kepada kami bukti sejarah yang ia ceritakan. "Ini tulang paha orang, ini tulang tangan... Bapak malah pernah liat
tengkorak yang masih ada bola matanya..." jelas Pak Mad Sahi
menunjukkan tulang belulang yang menempel di antara dinding pantai. Aku dapat
melihat jelas ada tulang yang mungkin bagian lengan, tulang-tulang lain yang
menempel di dinding. Mungkin karena makan ini terkena abrasi, jadi terkoyak dan
bisa terlihat jelas.
Tulang-tulang itu yang menurut Pak Mad Sahi adalah
para korban semasa perang melawan Belanda, mungkin jika aku simpulkan, pulau
ini menanam banyak sekali tubuh manusia yang sekarang hanya menyisakan tulang
belulang. Tapi menjadi risih jika ternyata tulang belulang dan makam tak beraturan
itu adalah menunjukkan bahwa pulau ini tempat pembuangan mayat (tanpa dikubur).
Untuk pertama kalinya aku melihat tulang belulang manusia, bahkan sebagai
peninggalan sejarah.
Kami tiba di bibir pantai yang lain. "Ini tanah asli pulau Burung, yang waktu dulu
masih terpisah dari darat", jelas Pak Mad Sahi memulai obrolan sambil
duduk-duduk di bibir pantai yang sangat tenang ombaknya. Kami banyak
menghabiskan waktu di pinggir pantai itu. Banyak informasi yang kami dapat
pastinya, bahkan curahan hati Pak Mad Sahi yang bangga menjadikan Pulau seluas
30 hektar ini sebagai rumah kedua baginya.
Menjelang siang, kami kembali ke pos penjagaan. Di
gubuk yang baru dibangun LSM itu kami melanjutkan obrolan kembali, setelah
shalat duhur, Pak Mad sahi menyuguhi kami segelas kopi yang terbuat dari batok
kelapa muda. Aku malu harus menemui Pak Mad Sahi dengan hanya membawa sebungkus
roti dan 3 bungkus kopi.
Insya Allah jika aku berkunjung kembalil ke pulau ini,
aku tak kan rasa malu ini.
Sekalipun siang telah benar-benar terik, tapi Pulau
Burung ini tetap teduh diantara hutan bakau dan hangat di antara suara burung
dan ombak yang tak pernah hilang..
Maka tiba
saatnya kami pamit... Tapi ternyata disaat kami ingin pamit, Pak Madi Sahi
justru mengira kami akan menunggu hingga sore hati untuk melihat menara
pemantau yang terbuat dari bambu di sudut lain pulau ini, dan pastinya sore
adalah waktu yang tepat untuk melihat burung-burung kembali ke pulau ini. Tapi
sayang, kami tak bisa lama berada di pulau ini. Aku mengucapkan rasa terima
kasih yang sangat kepada Pak Mad Sahi. Aku mendapatkan informasi, pengalaman,
pelajaran dan pastinya aku mendapatkan hari yang berharga. Makasih Pak!
"Saat pengalaman mendewasakan kita,
maka kita
akan mampu mendewasakan pengalaman.."

nice info gan
http://gateofjava.wordpress.com/
ada info kontak yang bisa dihubungi untuk ke pulau ini nggak kak? thanks
Halo ka, aku minta kontak pak mad sahi boleh? Terima kasih