Menginjak Tanah Baduy!

Kamis, 10 Jan 2008
Pengalaman ini adalah catatan yang ditulis kembali dari catatan Januari 2008, kala itu aku masih duduk di semester 3 Kampus UIN Jakarta. Ide jalan-jalan ke Baduy adalah kelanjutan dari ide sebelumnya jalan-jalan ke Bundaran HI dan Monas. Saat aku berada di monas, terbesit ide untuk berpetualang menuju Baduy. Maka pada pagi harinya tanpa persiapan kami putuskan untuk berpetualang menuju Baduy yang berlokasi di Lebak, Banten.

Satu hal yang membuatku ingin sekali menginjak tanah Baduy adalah karena aku orang Banten, sementara Baduy adalah salahsatu kekayaan budaya Banten. Maka agak memalukan kalau aku tak mengenal Baduy, meski Ibu semula melarangku ke Baduy, tapi aku beralasan ingin menemui kawan di Lebak.

Perjalanan menuju Baduy dari Ciputat ditempuh dengan kereta api. Aku berangkat bersama 7 orang kawan kampusku sekitar pukul 10.00 WIB menaiki angkot menuju Stasiun Pondok Ranji. Kereta baru tiba pukul 11.00 WIB, jadi kami harus sedikit menunggu.

Kereta yang kami naiki adalah kereta ekonomi, ongkos menuju Rangkas Bitung (Lebak) hanya Rp. 3.500 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Menaiki kereta ekonomi memang harus sedikit banyak berkorban, setidaknya betis harus kuat *angkatbarbel*. Kita terpaksa berdiri dan berjejalan dengan puluhan orang dalam satu gerbong yang padat. Tak hanya penumpang, termasuk pedagang dan pengamen yang hilir mudik di dalam gerbong. Jendela yang terbuka sedikit dan tak ada AC membuat gerbong menjadi sumpek! Tapi keinginan kami untuk menuju Baduy sudah berada di puncak ubun-ubun, maka berdiri 2 jam tak jadi masalah sedikitpun bagi kami. Dan ini kali ketiganya aku menaiki dengan waktu yang lebih lama.

13.00 p.m.
Setelah 2 jam bergelut dengan kejemuan di kereta, kami tiba juga di stasiun Rangkas Bitung. Dari stasiun ini kami masih harus menempuh perjalanan menggunakan angkot menuju Ciboleger, kampung Baduy. Ongkos yang harus disiapkan adalah Rp 110.000 untuk men-carter angkot yang akan membawa kami ke Baduy untuk sekali jalan. Kawanku Adam berujar harga tersebut terbilang wajar setelah melalui negosiasi, artinya jika dibagi 8 orang maka kami hanya membayar sekitar Rp 13.000.

Perjalanan ke Baduy ternyata cukup jauh, kami harus menempuh jarak sekitar 40 Km dari Stasiun Rangkas menuju Baduy atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Selama perjalanan menuju Baduy, kami hanya mendapati perkebunan karet yang luas, hamparan ladang milik masyarakat desa dan deretan pedesaan. Jalan panjang yang kami lalui cenderung sepi dari kendaraan lain, hanya sesekali motor atau mobil yang melintas. Tak hanya itu, jalanan yang kami tempuh cukup berkelok dan sesekali naik turun, seolah kami benar-benar akan menuju suatu pedesaan yang tertinggal.

14.30 p.m.
Kami tiba di desa Ciboleger, pintu masuk menuju kampung Baduy. Sebelum masuk, kami sudah merencanakan akan berapa lama berada di Baduy, karena angkot yang kami sewa tadi akan kembali ke kota tepat pukul 5 sore nanti. Jika tidak menaiki angkot itu, maka tidak ada lagi kendaraan menuju kota yang artinya kami harus tinggal di Baduy dan menunggu esok hari untuk pulang.

Tiba di jalan masuk menuju kampung Baduy, kami dihadapkan pada jajaran kios-kios yang menjual pernak-pernik khas Baduy. Jalan masuk menuju kampung Baduy adalah jalan selebar sekitar 3 meter yang agak menanjak dan ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Baru saja kami menanjak, beberapa orang menawarkan diri untuk menjadi guide. Saranku, jika pertama kali menuju Baduy, maka sebaiknya gunakan saja jasa guide itu. Sehari perjalanan hanya membayar mulai Rp. 30.000- Rp. 50.000.

Saat itu aku sebagai ‘juru bicara’ (karena bisa berbahasa Sunda), memutuskan untuk tidak menggunakan jasa guide, karena kami hanya akan sebentar berada di Baduy tidak menginap. Hal itu karena persiapan kami kurang matang untuk menuju Baduy, namun jika ingin menginap ada rumah warga yang biasa disewakan bagi tiap wisatawan. Tapi meski kami telah menolak jasa guide, tetap saja ada 2 orang yang mengikuti kami dan mengantar kami berjalan ke dalam. “Nggak usah dibayar juga nggak apa-apa,” istilah yang diguanakan sang guide.

Kampung Baduy tepatnya berada di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak (Rangkas Bitung). Orang Baduy atau Suku Baduy adalah masyarakat adat sub-etnis Sunda yang berada di Banten, populasi mereka sekitar 8.000 orang. Sementara bahasa yang digunakan adalah bahasa sunda Banten.

Suku Baduy disebut juga Orang Kenekes, mereka terbagi ke dalam 2 kelompok yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam tinggal di 3 kampung: Cibeo, Cikertawana, dab Cikeusik. Mereka berpakaian serba putih dan biru tua dengan ikat kepala putih. Baduy Dalam sangat menjaga nilai adat Baduy, bahkan secara adat dilarang bertemu dengan orang luar. Sementara Baduy Luar berpakaian serba hitam dengan ikat kepala hitam. Baduy Luar cenderung lebih mau membuka diri dengan masyarakat luar, meski soal pendidikan mereka belum benar-benar bisa menerima. Baduy luar juga termasuk lebih modern dengan bisa menerima teknologi, meski masih dilarang oleh adat.

Secara geografis perbedaan antara Baduy Dalam dan Luar sudah jelas, baduy luar tinggal di area terluar kampung yang lebih dekat dengan perkotaan dan diperbolehkan menggunakan transportasi. Sementara baduy dalam, berada di dalam kampung (hutan) yang sama sekali dilarang untuk bersentuhan dengan teknologi transportasi.

Aku masih ingat ketika sebuah stasiun tv memberitakan 3 orang baduy dalam yang berkunjung ke gedung DPR di Jakarta dengan berjalan kaki tanpa alas. Hal lain yang penting adalah masyarakat baduy mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan kerukunan antar manusia. Semua informasi tentang baduy ini bisa didapat dari sang guide.

Jalanan bersemen menuju kampung Baduy hanya sekitar 50 meter dari jalan masuk, selebihnya kami benar-benar masuk ke jalan tanah yang ditutupi lebatnya pepohonan. Untuk masuk ke dalam kami harus izin dulu kepala adat, sekedar menyampaikan maksud, menuliskan identitas (perwakilan) dan membayar biaya administras sekitar Rp. 10.000. Anggap saja tiket masuk.

Pemandangan yang disuguhkan baduy memang luar biasa indah. Benar-benar sebuah perkampungan yang asri dan bernilai budaya tinggi. Saat pertama memasukinya, kami dihadapkan pada bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu yang kami pikir itu rumah baduy, namun kemudian kami tahu itu adalah tempat penyimpanan padi bagi masyarakat baduy, yang mereka sebut sebagai leuit. Semua bangunan di baduy termasuk rumah warga terbuat dari kayu, rumah warga disini adalah rumah panggung.


Kampung Baduy cenderung sepi saat kami berkunjung, hanya ibu-bu dan anak-anak yang sesekali kamu temui tengah duduk-duduk di depan rumah. Para pria mungkin masih berladang atau berada di luar untuk bekerja. Kami juga melihat para gadis wanita Baduy yang tengah membuat kain Baduy dengan alat sederhana di pelataran rumah mereka.

Area Baduy luar ini cukup luas, hal itu juga yang membuat kami belum perlu memasuki Baduy Dalam, perlu menempuh jarak sekitar 10 KM berberjalan kaki untuk sampai Baduy Dalam. Jika ingin petualangan yang lebih menantang tentu harus berani masuk dan tinggal di Baduy Dalam.

16.30 a.m
Warga Baduy sangat ramah dengan pendatang, kami beberapa kali terlibat dialog dan berfoto bersama masyarakat baduy. Bahkan di dalam kami mendapati seorang penjaja pernak-pernik, unik dan kreatif. Seperti gantungan-gantungan kunci, gelas kayu dan beberapa asesoris lain yang dibuat oleh masyarakat Baduy. Harganya sangat murah, satu gantungan kecil dihargai rata-rata Rp. 1.000 rupiah. Ini saranku selanjutnya, jika ingin membeli pernak pernik lebih baik di dalam, meski sangat jarang menemukannya.

Akhirnya setelah berjalan-jalan cukup lama, kami putuskan untuk kembali ke luar. Ada yang tak aku sadari, rupanya saat itu di Baduy tengah musim durian. Wow! Beruntung sekali jika bisa ke Baduy di saat musim durian. “Belum ke baduy kalau musim durian di baduy nggak nyoba duriannya,” seru Kurdi guide yang mengikuti kami ke dalam. Maka tanpa berpikir panjang, aku dan kawan-kawan melahap beberapa durian Baduy. Nyam..! harganya cukup murah, sekitar Rp. 5.000-Rp. 15.000.
-Nikmatnya mencicipi durian Baduy-
16.40 p.m
Kami meninggalkan baduy dengan suka cita. Dua orang guide yang sejak semula kami tolak namun tetap mengikuti berjalan-jalan akhirnya kami bayar dengan Rp. 20.000. Sebelum benar-benar meninggalkan baduy, beberapa diantara kami menyempatkan diri untuk membeli kaos khas baduy yang dijajakan kios-kios di depan kampung Baduy. Tak hanya kaos bergambar peta atau tulisan baduy, termasuk juga baju adat baduy dan pernah-pernik lain. Maka tepat pukul 17.00 WIB sebagaimana direncakanan, kami semua telah berkumpul kembali di dalam angkot yang akan membawa kami kembali ke stasiun. Petualangan menginjak tanah baduy pun usai, alhamdulillah.

18.15 a.m
Kami tiba di stasiun Rangkas di saat malam mulai menggantikan siang. Oya, di pergelangan tanganku kini terpasang sebuah tali gelang bertuliskan Baduy, *bangga*. Tapi kepalaku rasanya pusing berat sejak perjalanan pulang tadi, ada yang kami tak sadari bahwa kami belum makan sejak siang. Begitu juga dengan kawanku yang lain, terlebih karena perjalana menuju baduy yang berliku dan berkelok-kelok.

Memasuki malam hari di Stasiun Rangkas, kami kesulitan mencari transportasi untuk kembali ke Ciputat. Kami hanya mendapati kereta yang akan menuju Parung Panjang, sementara kereta menuju Pondok Ranji baru akan tiba pada pukul 22.00 WIB malam nanti, itu pun kereta barang!

Ada yang juga baru kami sadari, setelah sadar kami belum makan dan kesulitan transportasi, kami juga ternyata mulai kehabisan uang. Meski untuk sekedar naik kereta masih cukup. Saat itu kami putuskan untuk tidak kembali ke Ciputat, tapi menunggu kereta ke Parung Panjang. Dari sana kami bisa mengendarai angkot menuju rumah salah seorang kawaku di Serpong.

Tak perlu waktu lama, kereta menuju Parung Panjang pun tiba. Saat aku dan kawan-kawan suda berada di atas  kereta, tapi tiba-tiba HP-ku berdering. Bapak menghubungiku dan memintaku untuk pulang ke Serang melalui Pandeglang, karena Bapak bilang jaraknya lebih dekat. Di atas kereta yang mulai bergerak, aku bergegas berlari menuju pintu gerbong kereta sebelum kereta bertambah cepat.

Aku berhasil meloncat keluar dari kereta dan sempat bertabrakan dengan pedagang asongan yang hendak masuk ke dalam kereta di pintu yang sama. Dan sesaat setelah aku turun, aku melihat kereta itu benar-benar telah pergi menjauh membawa 7 orang kawanku menuju Parung Panjang. Huff! Nyaris saja aku celaka. Maafkan aku kawan, aku tidak sempat berpamitan.

Malam itu, aku berjalan menuju pasar di dekat stasiun. Mencari mesin ATM untuk menambah ongkos yang sepertinya kurang. Tapi sepertinya di pasar seperti ini tak mungkin menemukan mesin ATM. Maka setelah bertanya, aku perlu menaiki angkot mencari lokasi ATM. Tapi setelah bertanya pada salah seorang penumpang di angkot, ternyata unagku cukup untuk sampai Serang, rumahku. Maka aku putuskan untuk menggunakan angkot lagi menuju Pandeglang. Ternyata untuk ke Pandeglang hanya perlu waktu 30 menit dengan biaya Rp 6.000. Itu jauh lebih cepat dan murah daripada yang aku bayangkan sebelumnya.

19.30 a.m
Aku tiba di Pandeglang, kota yang sudah aku kenal sejak kecil karena nenek tinggal di kota ini. Jadi untuk menuju ke Serang dari kota ini, aku tidak perlu khawatir. Semula aku ingin mengunjungi nenekku, tapi aku urungkan karena ingin segera pulang. Maka hanya membutuhkan waktu 1 jam dan ongkos Rp 6.000 untuk sampai ke Serang.

Selama di angkot menuju Serang, aku tertidur beberapa kali. Sepertinya tubuh ini mulai terasa letih karena perjalanan seharian ini. Angin malam yang keras menerpa wajah, seakan membuatku bangga karena telah berpetualang dari Jakarta menuju Baduy hanya bermodal keberanian keinginan berpetulang. Padahal kami masih dalam masa UAS di kampus.

Tiba di rumah, hanya ada ibu sementara yang lain sedang berada di luar.
“Iq udah makan?” tanya Ibu.
“Belum Bu, tadi enggak sempet,”
“Emang iiq engga dikasih makan di rumah temen iiq?” tanyanya lagi.
“Oh.. Engga Bu, ke rumah temennya ngak jadi, soalnya cuma ada waktu 2 jam di Rangkas, jadi dipake maen ke Baduy. Nih dari Baduy,” jelasku menunjukkan gelang akar yang aku kenakan di pergelangan tangan kanan.
“Ya udah makan gih,” kata Ibu cuek. :)

 -Baduy: Seem like Neo-Nazi-

Total biaya (per orang) ke Baduy:
1.     Angkot PP Ciputat-Stasiun Pd. Ranji  : Rp.  6.000
2.     Kereta PP Pd. Ranji-Rangkas            : Rp.  7.000
3.     Angkot PP Stasiun-Baduy                 : Rp. 30.000
4.     Oleh-oleh khas Baduy                      : Rp. 50.000
Jumlah                                            : Rp. 93.000.-

@ragenitas
0 Responses